Wabah Campak Mengancam, Sihar Sitorus Minta Penguatan Imunisasi dan Edukasi Publik
Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar Sitorus, mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai peningkatan kasus campak yang mulai menyerang anak-anak. Ia menilai penyakit ini tidak bisa dianggap sepele karena memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi serta berpotensi menimbulkan komplikasi serius hingga kematian.
Peringatan tersebut disampaikan Sihar saat kunjungan kerja spesifik Komisi IX DPR RI ke Kota Yogyakarta dalam rangka pengawasan kesiapsiagaan daerah menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, Senin (30/03/2026).
“Campak adalah penyakit dengan daya tular sangat tinggi dan dapat menimbulkan komplikasi serius, bahkan kematian. Ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa,” ujar Sihar yang dikutip dari postingan Instagramnya.

Dalam kunjungan tersebut, ia menilai upaya pencegahan masih perlu diperkuat secara serius dan konsisten, terutama dalam aspek imunisasi dan edukasi masyarakat.
Sihar menjelaskan, virus campak dapat menyebar dengan cepat melalui droplet pernapasan maupun partikel udara. Virus ini masuk melalui saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh dengan gejala awal berupa demam, batuk, pilek, dan mata merah.
Secara klinis, campak memiliki pola khas, yakni demam tinggi yang disertai batuk, pilek, radang mata, munculnya bercak Koplik, hingga ruam makulopapular yang biasanya dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.
“Virus ini memiliki masa inkubasi sekitar 10 hingga 14 hari dan sudah bisa menular sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul,” tambah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil SUMUT II ini.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa campak berisiko menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, diare, hingga ensefalitis, terutama pada anak-anak, individu dengan gizi buruk, serta mereka yang belum mendapatkan vaksinasi.
Karena itu, Sihar menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam penanganan penyakit menular, dari yang bersifat reaktif menjadi preventif.
“Kita tidak bisa terus bekerja seperti pemadam kebakaran yang baru bergerak setelah kejadian. Pendekatan preventif dan promotif harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemerintah memastikan ketersediaan vaksin, pemerataan imunisasi, serta penguatan edukasi publik guna melindungi anak-anak dari ancaman wabah campak.
“Ini bukan sekadar soal angka, tetapi tentang menjaga dan melindungi masa depan anak-anak Indonesia,” pungkasnya.
