Blog

Blog

Sihar Sitorus Dorong Masyarakat Cegah Penyakit melalui Germa

Sihar Sitorus Dorong Masyarakat Cegah Penyakit melalui Germa

Anggota Komisi IX DPR RI Sihar P. H. Sitorus mengajak masyarakat menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai langkah mencegah penyakit. Gerakan tersebut dapat dimulai dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan memeriksakan kesehatan secara berkala.

Ajakan itu disampaikan Sihar dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Mutu dan Keselamatan Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang berlangsung di Gedung Olahraga Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan yang digelar bersama Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI tersebut diawali dengan senam sehat yang diikuti ratusan warga. Peserta juga memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gratis bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Pemeriksaan yang diberikan meliputi pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga fungsi ginjal.

Sihar mengatakan, upaya menjaga kesehatan harus lebih diarahkan pada tindakan promotif dan preventif. Menurutnya, mencegah penyakit sejak dini lebih efektif dibandingkan melakukan pengobatan setelah kondisi kesehatan memburuk.

“Olahraga secara rutin, menjaga pola makan sehat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala merupakan langkah sederhana, tetapi sangat penting untuk mencegah penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung,” kata Sihar.

Ia menjelaskan, pemeriksaan berkala membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal. Dengan demikian, penanganan dapat segera dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.

Berdasarkan sejumlah kegiatan Germas yang telah dilaksanakan, lanjut Sihar, tekanan darah tinggi menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan. Temuan tersebut dapat menjadi bahan bagi pemerintah dalam menyusun langkah pencegahan yang lebih tepat sasaran.

Sihar juga mendorong masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan untuk segera mengikuti Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Menurutnya, kepesertaan JKN-KIS penting untuk memberikan perlindungan dan memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan tanpa menghadapi kendala biaya.

Sementara itu, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengapresiasi perhatian dan dukungan Sihar terhadap pembangunan sektor kesehatan di wilayah tersebut.

Masinton menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah sedang menjalankan sejumlah program prioritas, antara lain pembangunan RSUD Sorkam Barat, peningkatan beberapa puskesmas menjadi fasilitas rawat inap, serta rehabilitasi dan peningkatan sarana-prasarana RSUD Pandan.

Ketua Tim Kerja Pembinaan, Pengawasan, dan Pengelolaan Pengaduan Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI Riana Indrasan menambahkan, budaya mutu dan keselamatan pasien harus menjadi komitmen seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia menilai pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kebutuhan pasien merupakan unsur penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah Lisnawati Panjaitan, perwakilan RSUD Pandan, para kepala puskesmas, pimpinan klinik, personel Polres Tapanuli Tengah, serta ratusan peserta sosialisasi.

Sihar Sitorus Dorong Penguatan Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien di Tapanuli Tengah

Sihar Sitorus Dorong Penguatan Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien di Tapanuli Tengah

Anggota Komisi IX DPR RI Sihar P. H. Sitorus bersama Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menghadiri Sosialisasi Budaya Mutu dan Keselamatan Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Pandan itu diikuti tenaga kesehatan, pengelola fasilitas pelayanan kesehatan, serta berbagai unsur masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Sihar menekankan pentingnya pengawasan terhadap pelaksanaan program Kementerian Kesehatan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Ia juga mendorong penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Menurut Sihar, langkah promotif dan preventif menjadi cara yang lebih efektif sekaligus terjangkau untuk mencegah penyakit dibandingkan penanganan setelah masyarakat jatuh sakit.

Ia mengajak masyarakat rutin berolahraga, menerapkan pola makan sehat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pemeriksaan tersebut antara lain meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, dan fungsi ginjal.

Pemeriksaan kesehatan dinilai penting untuk memetakan risiko penyakit tidak menular sejak dini, seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

Sementara itu, Masinton Pasaribu menyampaikan apresiasi kepada Sihar yang dinilai terus memberikan perhatian terhadap pembangunan sektor kesehatan di Tapanuli Tengah.

Masinton mengatakan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, terutama setelah bencana dan cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut sejak 25 November 2025. Kondisi itu disebut masih berdampak terhadap sejumlah fasilitas kesehatan dan akses pelayanan masyarakat.

Pemkab Tapanuli Tengah juga mengusulkan sejumlah program prioritas kepada pemerintah pusat, di antaranya pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Sorkam Barat, peningkatan kapasitas sejumlah puskesmas menjadi fasilitas rawat inap, serta rehabilitasi sarana dan prasarana RSUD Pandan.

Menurut Masinton, pembangunan RSUD Sorkam Barat dibutuhkan untuk memperpendek waktu tempuh rujukan bagi masyarakat di wilayah barat Tapanuli Tengah. Selama ini, sebagian warga harus menempuh perjalanan sekitar tiga hingga enam jam untuk memperoleh pelayanan di RSUD Pandan.

Adapun peningkatan kapasitas puskesmas meliputi penambahan tempat tidur, penguatan jaringan listrik, perbaikan sanitasi, serta pemenuhan tenaga kesehatan sesuai standar.

Ketua Tim Kerja Pembinaan, Pengawasan, dan Pengelolaan Pengaduan Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI, Riana Indrasan, mengatakan sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya mutu dan keselamatan pasien secara konsisten.

Melalui penguatan budaya tersebut, setiap fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan mampu memberikan layanan yang aman dan bermutu kepada masyarakat.

Kegiatan itu ditutup dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi peserta sebagai bentuk penerapan Germas. Turut hadir Kepala Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah Lisnawati Panjaitan, perwakilan RSUD Pandan, para kepala puskesmas, pimpinan klinik, dan sejumlah narasumber.

Sihar Sitorus dan BPJS Kesehatan Sosialisasikan Program JKN-KIS di Tapanuli Tengah

Sihar Sitorus dan BPJS Kesehatan Sosialisasikan Program JKN-KIS di Tapanuli Tengah

BPJS Kesehatan Cabang Pandan bersama Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar P. H. Sitorus, menggelar sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) kepada masyarakat di Kabupaten Tapanuli Tengah, Rabu (5/8/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat, kepesertaan, serta prosedur pelayanan kesehatan melalui Program JKN-KIS. Sosialisasi juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyampaikan pertanyaan dan kendala yang dihadapi saat mengakses layanan BPJS Kesehatan.

Sihar mengatakan Program JKN-KIS memiliki peran penting dalam memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat. Karena itu, ia mendorong warga yang belum terdaftar agar segera menjadi peserta BPJS Kesehatan.

Menurutnya, kepesertaan JKN-KIS dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari risiko pembiayaan ketika membutuhkan pelayanan medis. Kesadaran menjaga kesehatan juga perlu ditingkatkan melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Melalui edukasi kesehatan yang berkelanjutan, diharapkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dan memanfaatkan layanan kesehatan semakin meningkat,” kata Sihar.

Politikus Fraksi PDI Perjuangan itu menegaskan bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan merupakan hak setiap warga negara. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, BPJS Kesehatan, fasilitas kesehatan, dan masyarakat untuk memastikan pelaksanaan Program JKN berjalan optimal.

Dalam kegiatan tersebut, BPJS Kesehatan Cabang Pandan turut menyampaikan penjelasan mengenai mekanisme kepesertaan, hak dan kewajiban peserta, alur pelayanan berjenjang, serta layanan administrasi yang tersedia bagi masyarakat.

Masyarakat juga diimbau memastikan data kepesertaan sesuai dengan data kependudukan dan menjaga status kepesertaan tetap aktif agar tidak mengalami kendala ketika membutuhkan pelayanan kesehatan.

Melalui sosialisasi ini, BPJS Kesehatan dan DPR RI berharap masyarakat semakin memahami Program JKN-KIS serta dapat memanfaatkan layanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sihar Sitorus Ajak Warga Andam Dewi Aktif dalam Program JKN-KIS

Sihar Sitorus Ajak Warga Andam Dewi Aktif dalam Program JKN-KIS

Anggota Komisi IX DPR RI Sihar P. H. Sitorus mengajak masyarakat Kecamatan Andam Dewi, Kabupaten Tapanuli Tengah, segera mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan guna memperoleh perlindungan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Ajakan tersebut disampaikan Sihar dalam kegiatan sosialisasi JKN-KIS di Aula Paroki Pangaribuan, Kecamatan Andam Dewi, Rabu (5/8/2026). Kegiatan itu bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat, hak, dan kewajiban peserta BPJS Kesehatan.

Karena masih dalam perjalanan menuju Tapanuli Tengah, Sihar mengikuti kegiatan melalui konferensi video. Ia mengatakan Program JKN-KIS merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memberikan akses pelayanan kesehatan yang merata kepada masyarakat.

“Karena itu, saya mengajak masyarakat yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan agar segera mendaftar sehingga mendapatkan perlindungan kesehatan ketika dibutuhkan,” kata Sihar.

Menurutnya, kepesertaan JKN-KIS tidak hanya memberikan rasa aman ketika masyarakat membutuhkan pengobatan, tetapi juga mendukung terwujudnya pelayanan kesehatan yang berkualitas, mudah diakses, dan berkeadilan.

Pelaksana Harian Camat Andam Dewi, Rudolf Simamora, mengapresiasi penyelenggaraan sosialisasi tersebut. Ia menilai kegiatan itu membantu menjawab berbagai pertanyaan masyarakat mengenai administrasi dan pelayanan BPJS Kesehatan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan karena sangat mengedukasi masyarakat,” ujar Rudolf.

Ia berharap meningkatnya pemahaman warga turut mendorong perluasan kepesertaan JKN-KIS di Kecamatan Andam Dewi. Dengan menjadi peserta, masyarakat diharapkan memiliki perlindungan lebih baik ketika membutuhkan pelayanan medis.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pandan M. Hidayat Al-Arieef menjelaskan mekanisme pendaftaran, manfaat yang dijamin, prosedur memperoleh pelayanan, serta jenis layanan yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Peserta juga memperoleh informasi kontak yang dapat digunakan apabila menghadapi kendala administrasi ataupun membutuhkan pendampingan dalam proses pendaftaran dan pelayanan.

Pada sesi dialog, warga mengajukan pertanyaan mengenai perbedaan peserta mandiri dan peserta yang iurannya ditanggung pemerintah, mekanisme rujukan, serta tata cara mengubah status kepesertaan.

Salah seorang warga, Sauli Simanjuntak, menilai materi sosialisasi disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami. Ia berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara berkala agar masyarakat semakin memahami Program JKN-KIS.

Sosialisasi tersebut turut dihadiri jajaran BPJS Kesehatan Cabang Pandan, Polsek Barus, Pemerintah Kecamatan Andam Dewi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan ratusan warga.

Sihar Sitorus Soroti Peran Ayah hingga Kejelasan Data Stunting dalam Rapat dengan Kemendukbangga

Sihar Sitorus Soroti Peran Ayah hingga Kejelasan Data Stunting dalam Rapat dengan Kemendukbangga

Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar Sitorus, menyoroti pentingnya peran ayah dalam pembangunan keluarga serta meminta kejelasan data terkait stunting dan keluarga berisiko stunting saat rapat kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN di ruang rapat Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).


Dalam rapat tersebut, Sihar memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Ia menilai peran ayah memiliki kontribusi penting dalam pembentukan karakter dan kesehatan mental anak.


“Saya secara khusus mungkin mau menegaskan kembali tentang gerakan ayah teladan Indonesia. Kalau tadi Pak Edi mengatakan ibunya harus diberesin dulu, diurus dengan baik sehingga stunting mungkin setengahnya. Saya tentunya melihat peran ayah kayaknya terlalu di-discount, tetapi sebenarnya sangat penting dalam pembentukan sehingga si anak ketika dewasa menjadi anak yang baik secara mental,” ujar Sihar.


Ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan tenaga profesional dalam program tersebut. Dalam hal ini psikolog dan konselor. “Mungkin menjadi penting di dalam program Pak Menteri untuk melibatkan psikolog ataupun konselor dalam membentuk dalam gerakan ayah teladan ini,” lanjutnya.


Selain itu, Sihar meminta data yang lebih rinci mengenai kasus stunting baru, khususnya pada anak usia dibawah 24 bulan. Menurutnya, data tersebut penting untuk mengukur efektivitas intervensi yang telah dilakukan pemerintah.


“Saya ingin melihat lebih tepatnya ada berapa sih sebenarnya kalau kita kategorikan stunting baru, berarti di bawah 24 bulan. Karena kenapa 24 bulan? Karena berkenaan dengan vaksinasi pada umumnya juga selesai dalam waktu 18 bulan sampai 20 bulan,” katanya.


Ia menambahkan bahwa data mengenai perkembangan anak setelah periode 1.000 hari pertama kehidupan juga perlu ditampilkan secara lebih jelas. “Kita bisa lihat stunting baru, risiko tadi Bapak menyampaikan ada risiko nanti, kemudian setelah 1.000 hari itu kayak gimana, dan kita masih ada 800 hari kemudian untuk sampai ke balita. Setelah itu kita enggak lagi bisa menurunkan efek stunting itu secara signifikan,” ujarnya.


Terkait program intervensi keluarga berisiko stunting, Sihar menilai pemerintah tidak hanya perlu menyampaikan jumlah sasaran yang ditangani, tetapi juga tingkat keberhasilan program tersebut. “Berkaitan dengan program penting, dari 1,6 juta target berisiko stunting itu baru setengah daripada cerita yang ingin Bapak sampaikan. Yang kita perlu dengar adalah lolosnya itu berapa banyak,” tegasnya.


Politisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini juga mengaitkan persoalan stunting dengan tingginya angka kehamilan tidak diinginkan yang menurutnya mencapai sekitar 14 persen. “Berkaitan dengan tingginya preferensi kehamilan tidak diinginkan sekitar 14 persen, jadi lebih dari satu orang per 10 orang, sangat-sangat besar,” katanya.


Pada kesempatan yang sama, Sihar meminta penjelasan lebih lanjut mengenai penggunaan data desil dalam penentuan sasaran program keluarga berisiko stunting. Menurutnya, terdapat perbedaan antara asumsi yang digunakan dan kelompok sasaran yang ditetapkan.


“Saya hanya ingin memastikan bahwa data yang Bapak sampaikan ini bisa clear juga, karena saya melihat ada penggunaan asumsi menggunakan desil satu, tetapi target pentingnya itu desil satu sampai tiga,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia menyoroti perbedaan capaian penerima manfaat dan capaian kuota program pada tahun 2026 yang dinilainya cukup jauh berbeda. “Kalau kita bandingkan capaian yang penting 2025 dengan sekarang sampai dengan Juni atau 18 Juli 2026 ini, porsinya antara capaian penerima dengan capaian kuota sangat jauh berbeda, 19 persen dengan 9 persen. Jadi mungkin perlu kita lihat lebih jauh, Pak,” pungkasnya. (ayu/ssb/dpr.go.id)

Revisi UU Ketenagakerjaan, Sihar Sitorus Desak Akomodasi Kearifan Lokal Kalbar

Revisi UU Ketenagakerjaan, Sihar Sitorus Desak Akomodasi Kearifan Lokal Kalbar

Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar P.H. Sitorus, menilai revisi Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan harus mampu mengakomodasi kearifan lokal dan karakteristik ketenagakerjaan di daerah.

Hal ini dinilai penting agar regulasi yang dilahirkan nantinya benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Sihar dalam pertemuan di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Pontianak, Selasa (2/6/2026). Ia secara khusus menyoroti struktur adat di Kalbar yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas ketenagakerjaan, terutama di sektor berbasis sumber daya lokal.

“Kalimantan Barat memiliki struktur adat yang berkaitan langsung dengan ketenagakerjaan. Ini bisa menjadi pengayaan dalam revisi undang-undang, baik secara akademis maupun berdasarkan kearifan lokal,” ujar Sihar.

Sihar menjelaskan bahwa sektor pertanian dan perkebunan menyerap sekitar 55 persen tenaga kerja di Kalbar. Sektor-sektor ini bertumpu pada kehidupan masyarakat lokal. Oleh karena itu, sinergi antara adat, dunia usaha, dan regulasi ketenagakerjaan harus diperhatikan demi kelangsungan ekonomi yang berkelanjutan.

Selain persoalan adat, Sihar juga menyoroti tantangan besar terkait kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kalbar. Berdasarkan data yang diterimanya, sekitar 41 persen tenaga kerja di wilayah tersebut berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah.

Kondisi ini, menurut Sihar, memerlukan penanganan serius lewat program peningkatan keterampilan (upskilling) yang disesuaikan dengan karakter daerah.

“Kami memerlukan masukan terkait upskilling yang dibutuhkan sesuai karakteristik Kalimantan Barat. Saya rasa karakteristik serupa juga ada di daerah lain, sehingga bisa menjadi bahan pengayaan untuk kebijakan nasional,” ungkapnya.

Di akhir penyataannya, Sihar meminta dukungan dari kalangan akademisi untuk menyodorkan hasil riset mengenai kesenjangan (gap) antara jumlah lulusan pendidikan dengan lowongan kerja yang tersedia. Data konkret tersebut sangat dibutuhkan untuk membenahi sistem pendidikan vokasi ke depan.

“Kajian ini penting karena ke depan akan berpengaruh terhadap penyusunan kurikulum SMK, agar para lulusannya benar-benar siap dan matang saat memasuki dunia kerja,” pungkas Sihar. (source: Gesuri.id)

Kepri Rentan Praktik Keberangkatan PMI Non-Prosedural

Kepri Rentan Praktik Keberangkatan PMI Non-Prosedural

Komisi IX DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rabu (22/4/2026). Dalam pertemuan yang digelar di Kantor Gubernur Kepulauan Riau, Komisi IX mengumpulkan seluruh mitra kerja untuk membahas berbagai isu strategis, salah satunya terkait Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar P.H. Sitorus, menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk meningkatkan taraf hidup, termasuk dengan bekerja di luar negeri. Namun, ia mengingatkan pentingnya mengikuti prosedur resmi agar para pekerja mendapatkan perlindungan hukum yang memadai.

“Yang perlu diperhatikan adalah prosesnya harus benar, prosedur diikuti sampai izin kerja keluar. Karena ketika terjadi masalah, respons otoritas akan berbeda antara pekerja yang legal dengan yang tidak,” ujar Sihar.

Ia juga menyoroti maraknya kasus deportasi PMI yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pelanggaran izin tinggal hingga keterlibatan dalam aktivitas yang bertentangan dengan hukum negara setempat. Menurutnya, kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama.

Dalam kesempatan tersebut, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) memaparkan adanya lonjakan signifikan dalam jumlah pelayanan dan perlindungan PMI, yang didominasi oleh kasus deportasi. Kepulauan Riau dinilai sangat rentan terhadap praktik keberangkatan non-prosedural, mengingat letak geografisnya yang strategis sebagai pintu gerbang internasional.

Sihar mendorong masyarakat untuk memanfaatkan jalur resmi yang telah disediakan pemerintah, termasuk skema kerja sama antarpemerintah (G2G) maupun government to business (G2B). Meskipun prosedurnya relatif lebih panjang, jalur ini dinilai jauh lebih aman.

“Kalau melalui prosedur resmi, ketika ada hal yang tidak diinginkan, penanganannya akan lebih mudah. Karena ada sistem yang bisa melindungi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sosialisasi hingga ke tingkat desa agar masyarakat memahami prosedur bekerja di luar negeri secara benar. Dengan persiapan yang matang, diharapkan para calon PMI dapat bekerja dengan lebih tenang dan terlindungi.

“Langkah awalnya adalah sosialisasi yang masif, sehingga masyarakat bisa mempersiapkan diri dengan baik dan mengikuti prosedur yang ada,” pungkasnya. (est/aha/dpr.go.id)

Wabah Campak Mengancam, Sihar Sitorus Minta Penguatan Imunisasi dan Edukasi Publik

Wabah Campak Mengancam, Sihar Sitorus Minta Penguatan Imunisasi dan Edukasi Publik

Anggota Komisi IX DPR RI, Sihar Sitorus, mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai peningkatan kasus campak yang mulai menyerang anak-anak. Ia menilai penyakit ini tidak bisa dianggap sepele karena memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi serta berpotensi menimbulkan komplikasi serius hingga kematian.

Peringatan tersebut disampaikan Sihar saat kunjungan kerja spesifik Komisi IX DPR RI ke Kota Yogyakarta dalam rangka pengawasan kesiapsiagaan daerah menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, Senin (30/03/2026).

“Campak adalah penyakit dengan daya tular sangat tinggi dan dapat menimbulkan komplikasi serius, bahkan kematian. Ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa,” ujar Sihar yang dikutip dari postingan Instagramnya.

Dalam kunjungan tersebut, ia menilai upaya pencegahan masih perlu diperkuat secara serius dan konsisten, terutama dalam aspek imunisasi dan edukasi masyarakat.

Sihar menjelaskan, virus campak dapat menyebar dengan cepat melalui droplet pernapasan maupun partikel udara. Virus ini masuk melalui saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh dengan gejala awal berupa demam, batuk, pilek, dan mata merah.

Secara klinis, campak memiliki pola khas, yakni demam tinggi yang disertai batuk, pilek, radang mata, munculnya bercak Koplik, hingga ruam makulopapular yang biasanya dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.

“Virus ini memiliki masa inkubasi sekitar 10 hingga 14 hari dan sudah bisa menular sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul,” tambah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil SUMUT II ini.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa campak berisiko menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, diare, hingga ensefalitis, terutama pada anak-anak, individu dengan gizi buruk, serta mereka yang belum mendapatkan vaksinasi.

Karena itu, Sihar menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam penanganan penyakit menular, dari yang bersifat reaktif menjadi preventif.

“Kita tidak bisa terus bekerja seperti pemadam kebakaran yang baru bergerak setelah kejadian. Pendekatan preventif dan promotif harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah memastikan ketersediaan vaksin, pemerataan imunisasi, serta penguatan edukasi publik guna melindungi anak-anak dari ancaman wabah campak.

“Ini bukan sekadar soal angka, tetapi tentang menjaga dan melindungi masa depan anak-anak Indonesia,” pungkasnya.

Angkat Kearifan Lokal, Sihar Sitorus Sosialisasikan Mie Gomak dan Lapet Jadi Menu MBG di Desa Sitoluama

Angkat Kearifan Lokal, Sihar Sitorus Sosialisasikan Mie Gomak dan Lapet Jadi Menu MBG di Desa Sitoluama

Anggota DPR RI dari Komisi IX, Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus, kembali menggelar sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sitoluama, Kabupaten Toba, Jumat (6/3/2026) pukul 10.00 WIB. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Badan Gizi Nasional (BGN) serta Dinas Kesehatan Kabupaten Toba.

Dalam sambutannya, Sihar Sitorus menyampaikan bahwa Program MBG merupakan salah satu program prioritas nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dalam upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Ia juga mendorong agar makanan khas daerah dapat dimasukkan dalam menu program MBG di Kabupaten Toba.

“Program MBG merupakan program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan gizi masyarakat dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Makanan kearifan lokal seperti mie gomak dan lapet bisa menjadi menu MBG di 23 SPPG se-Kabupaten Toba,” ujar Sihar.

Menurut Sihar, program berskala nasional tersebut tentu memiliki berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, ia membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan agar program dapat terus diperbaiki.

Ia juga menilai potensi sektor agrikultur dan hortikultura di Kabupaten Toba cukup besar untuk mendukung penyediaan bahan pangan lokal bagi program MBG. Bahan-bahan lokal tersebut, kata dia, dapat dikombinasikan dengan menu sayur dan buah-buahan guna menciptakan pola makan yang lebih seimbang.

Selain itu, Sihar mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan untuk mencegah penyakit kronis seperti diabetes yang dapat menimbulkan biaya pengobatan tinggi.

Ia juga berharap masyarakat dapat memanfaatkan program tersebut untuk memasarkan hasil pertanian lokal melalui koperasi desa, sekaligus meminta pengelola dapur SPPG menjaga kebersihan lingkungan dan kualitas makanan yang disajikan.

Sementara itu, narasumber dari BGN pusat, Erdianta Sitepu, menjelaskan bahwa program MBG bertujuan memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan asupan makanan sehat dan bergizi setiap hari.

Ia menyebutkan, di Kabupaten Toba direncanakan terdapat 23 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan anggaran sekitar Rp900 juta untuk setiap unit.

“Program ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal masa depan bangsa. Presiden ingin melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing pada 2045,” kata Erdianta.

BGN juga mengajak para orang tua untuk lebih memperhatikan pentingnya gizi seimbang bagi tumbuh kembang anak, sekaligus mendorong percepatan pembangunan dapur dan fasilitas SPPG di wilayah Kabupaten Toba.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Toba, dr. Freddy S. Sibarani, MKM, dalam kesempatan tersebut menyoroti tingginya angka penyakit paru kronis di daerah tersebut. Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, guna mencegah berbagai penyakit.

Ia juga menyampaikan bahwa dari total 23 SPPG yang direncanakan, sebanyak 16 unit telah berjalan, serta pihaknya aktif memberikan sosialisasi terkait pencegahan keracunan pangan.

Sebagai informasi, Program MBG diperuntukkan bagi peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMA, baik negeri maupun swasta, serta bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kegiatan sosialisasi tersebut turut dihadiri perwakilan BGN Sumatera Utara, Korwil BGN Sumut Miranda Sihombing, anggota DPRD Kabupaten Toba Fidel Hutahean, Kepala Desa Sitoluama Darma Pangaribuan, serta ratusan masyarakat yang hadir sebagai undangan. (Bee/KawalSumut.com)

Kunjungi BLK Landbouw Toba, Sihar Sitorus Kritik Minimnya Sarana dan Anggaran Pelatihan Kerja

Kunjungi BLK Landbouw Toba, Sihar Sitorus Kritik Minimnya Sarana dan Anggaran Pelatihan Kerja

Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Komisi IX dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, melakukan kunjungan kerja ke Balai Latihan Kerja (BLK) Landbouw di Dusun II, Desa Sibarani Nasampulu, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba, Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau langsung kondisi infrastruktur serta kelengkapan sarana dan prasarana pelatihan kerja di BLK tersebut.

Kedatangan Sihar disambut secara sederhana oleh Asisten III Administrasi Umum Pemerintah Kabupaten Toba sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perizinan, Verry S. Napitupulu. Ia didampingi Kepala Bidang Pembinaan Tenaga Kerja, Tulus Hutabarat, serta Kepala Desa Sibarani Nasampulu, Soltan Sibarani.

Dalam sambutannya, Verry Napitupulu menyampaikan bahwa kondisi BLK Landbouw saat ini masih membutuhkan perhatian lebih, khususnya terkait fasilitas pelatihan dan dukungan anggaran.

“Kondisi BLK di Landbouw Desa Sibarani Nasampulu masih sangat memerlukan perhatian. Kami masih menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan saat ini sedang melakukan inventarisasi kebutuhan ke depan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, anggaran pelatihan kerja yang tersedia saat ini masih terbatas, yakni sekitar Rp10 juta untuk setiap pelatihan. Beberapa jenis pelatihan yang telah dilaksanakan antara lain pelatihan tukang las, tata kecantikan (salon), dan menjahit.

Menurutnya, pelaksanaan pelatihan juga masih menyesuaikan dengan 17 komponen standar yang ditetapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sementara itu, Kepala Desa Sibarani Nasampulu, Soltan Sibarani, berharap adanya tambahan program pelatihan di BLK, khususnya pelatihan mesin bubut yang dinilai memiliki peluang kerja luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

“Kami melihat kebutuhan tenaga kerja cukup besar, termasuk untuk bekerja di Korea Selatan dan Jepang. Sebelumnya kami sudah pernah mengirim lima orang untuk mengikuti pelatihan bahasa Korea melalui kerja sama dengan Pemkab Toba dan mereka sudah berangkat bekerja ke Korea Selatan,” katanya.

Usai mendengarkan paparan dan meninjau langsung kondisi fisik BLK Landbouw, Sihar Sitorus menilai fasilitas dan peralatan pelatihan di lokasi tersebut masih sangat minim.

Ia menyebutkan, kebutuhan tenaga kerja saat ini tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, dengan beberapa bidang yang banyak dibutuhkan seperti caregiver dan tenaga pengelasan.

“Setelah mendengar pemaparan dari Disnaker, ternyata anggaran pelatihan yang hanya Rp10 juta per pelatihan masih sangat minim. Dari sarana yang ada, terlihat hanya tersedia beberapa peralatan seperti mesin jahit, peralatan salon, dan teknik mesin,” ujarnya.

Selain pelatihan berbasis keterampilan teknis, Sihar juga menilai pentingnya pengembangan pelatihan yang berkaitan dengan kearifan lokal masyarakat Toba.

“Kita juga perlu mengangkat pelatihan yang berkaitan dengan kearifan budaya lokal, misalnya terkait produksi tuak, karena hal itu sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Toba,” katanya.

Ia menambahkan, kebutuhan peningkatan anggaran pelatihan BLK akan menjadi perhatian Komisi IX DPR RI.

“Anggaran pelatihan BLK perlu ditambah dan hal ini akan kami bahas di Komisi IX. Apalagi ada permintaan dari pemerintah desa terkait pelatihan mesin bubut yang memang dibutuhkan masyarakat,” ujar Sihar.

Kegiatan kunjungan tersebut diakhiri dengan peninjauan area BLK Landbouw serta sesi foto bersama jajaran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Toba dan pemerintah Desa Sibarani Nasampulu. (Bee/KawalSumut.com)